Jika sebelumnya kita membahas tempat wisata yang ada di daerah Bandung Selatan, sekarang kita akan membahas salah satu tempat wisata di daerah Bandung Utara. Tempat wisata tersebut adalah Tangkuban Perahu. Tangkuban Perahu merupakan sebuah gunung merapi yang masih aktiv di Bandung, Jawa Barat. Lebih tepatnya, Tangkuban Perahu terletak di Desa Cikole, Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Gunung ini memiliki tinggi sekitar 2.084 meter dengan rimbun pohon pinus dan hamparan kebun teh di sekitarnya. Bentuk gunung ini adalah Stratovulcano dengan pusat erupsi yang berpindah dari timur ke barat. Jenis batuan yang dikeluarkan melalui letusan kebanyakan adalah lava dan sulfur, mineral yang dikeluarkan adalah sulfur belerang. Sedangkan mineral yang dikeluarkan pada saat gunung tidak aktif adalah uap belerang.
Di dekat daerah ini, terdapat banyak sekali pedagang dan kios-kios. Jadi Anda akan dengan mudah membeli oleh-oleh dari sini. Kios-kios tersebut menjual berbagai cinderamata, makanan atau minuman. Berbagai cindera mata dimulai dari baju, selendang, topi, gelang/cincin, batu alam, tanaman bonsai, alat musik khususnya angklung, hingga senjata tajam khas Jawa Barat dijual di sini.
Nah, sekarang kita akan membahas mengenai Legenda dari Tangkuban Perahu. Tangkuban Perahu memiliki arti "Perahu yang Terbalik". Nama tersebut diambil dari bentuk gunung yang menyerupai perahu yang terbalik. Konon ceritanya, ada seorang wanita bernama Dayang Sumbi. Wanita tersebut memiliki seorang anak yang dibuangnya karena ketidaktaatannya, dan Dayang Sumbi dianugrahkan hidup yang abadi oleh dewa-dewa karena kesedihan yang dirasakannya. Anaknya bernama Sangkuriang. Setelah dewasa, anak tersebut kembali ke kampung halamannya dan terpukau melihat Dayang Sumbi. Sangkuriang mendekatinya dan melamarnya, tanpa mengetahui bahwa wanita tersebut adalah Ibunya sendiri. Untuk menghentikan pernikahannya, Dayang Sumbi meminta suatu permintaan kepada Sangkuriang. Dayang Sumbi meminta dibuatkannya sebuah bendungan di Sungai Citarum dan sebuah kapal yang sangat besar dalam satu malam. Lalu, Sangkuriang bertapa dan meminta bantuan Buta Hejo (sejenis raksasa). Setelah melihat kerja keras Sangkuriang, dan melihat bahwa proses pembuatan kapal dan bendungan akan selesai, Dayang Sumbi mengenakan kain merahnya dan mengibarkannya di Timur kota. Sangkurian tertipu karena mengira matahari telah terbit. Lalu Sangkuriang marah dan menendang kapal tersebut, menghancurkan bendungan, dan akhirnya kapal tersebut terbalik dan membentuk gunung.




.jpg)


0 comments:
Post a Comment